Sebagian dari tanda-tandanya seseorang itu bersandar kepada amal adalah berkurang harapannya kepada Allah pada saat terjadinya kesalahan & dosa” (Al-Hikam : 1).
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan menolong kita agar menjadi orang yang tidak pernah berputus asa dalam pergerakan usaha meraih cita-cita hidup mulia kita di dunia dan akhirat, karena putus asa adalah sikap yang dimurkai Allah dan hanya orang-orang kafir yang akan melakukannya. “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum orang-orang kafir" (QS.12. Yusuf : 87).
Di antara penyebab munculnya keputusasaan atau berkurangnya harapan kepada rahmat Allah SWT adalah tatkala sesorang dalam mencapai apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya ia bersandar atau bergantung kepada amal-amal atau usaha-usahanya. Ada segolongan orang yang menyandarkan harapannya untuk masuk ke dalam surga atau selamat dari siksa neraka kepada amal-amal anggota badannya seperti sholat, dzikir, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Atau ada golongan yang dengan amal-amalnya tersebut mereka menyandarkan harapannya untuk sampai ke Hadirat Allah SWT, terbukanya tutup-tutup di qolbunya, tercapainya amal-amal hati atau tersingkapnya hijab dan rahasia-rahasia hikmah.
Orang-orang yang bersandar kepada amal-amalnya ini, jika amalnya sedang baik dan banyak, maka harapannya untuk mendapatkan rahmat Allah, masuk surga dan selamat dari siksa neraka akan bertambah. Atau harapannya untuk sampai ke Hadirat Allah, tersingkapnya hijab dan rahasia-rahasia akan meningkat. Sebaliknya, jika amalnya sedang buruk atau tergelincir ke dalam perbuatan maksiat dan dosa, maka harapannya untuk mendapatkan rahmat Allah, masuk surga dan selamat dari siksa neraka akan berkurang. Atau harapannya untuk menjadi orang yang dicintai Allah menjadi menurun. Bahkan sebagian diantaranya akan sirna harapannya dan putus asa. Inilah yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Atho’illah As-Sakandari di mutiara hikmah yang pertama di dalam Kitab Al-Hikam, “Sebagian dari tanda-tandanya seseorang itu bersandar kepada amal adalah berkurang harapannya kepada Allah pada saat terjadinya kesalahan dan dosa” (Al-Hikam : 1).
Sikap kedua golongan ini dalam pandangan “Ahli Ma’rifat” adalah tercela, karena sikap ini tumbuh dari memandang diri sendiri dan menganggap bahwa amal-amal itu muncul dari daya dan kekuatan mereka sendiri. Padahal kita sering berdzikir, “La Haula Walaa Quwwata illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim” atau “Tiada daya meninggallkan perbuatan maksiat dan dosa, dan tidak ada kekuatan melaksanakan amal taat, kecuali dengan karunia pertolongan Allah Yang Tinggi lagi Maha Agung”. Di zaman Rasulullah SAW dulu ketika para sahabat di perang Hunain bangga & bersandar kepada jumlah dan amalnya, maka Allah memberikan pelajaran dengan kekalahan dan kegagalan. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai” (QS.9. At-Taubah : 25).
Adapun golongan Ahli Ma’rifat, maka mereka tidak memandang sesuatupun pada diri-diri mereka sendiri sehingga layak dijadikan sebagai sandaran, namun mereka menyaksikan bahwa sesungguhnya dalam segala sesuatu, pelaku yang hakiki adalah Allah SWT, sedangkan diri-diri mereka hanyalah sebagai tempat tampaknya semuanya itu. Ketika mereka menunaikan amal ketaatan seperti sholat, dzikir, do’a, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu dan sebagainya, maka mereka tidak melihat daya dan kekuatan diri-diri mereka sendiri dalam amal-amal ini, namun mereka menyaksikan bahwa Allah SWT yang telah memberi karunia bimbingan, kekuatan dan pertolongan sehingga nampaklah amal-amal kebajikan itu pada diri-diri mereka. Oleh karenanya, pada saat mereka tertimpa kelalailan atau tergelincir dalam kesalahan dan dosa, mereka pun menyaksikan adanya tindakan Allah dan berjalannya qodho’ Allah di dalamnya. Sehingga, dalam 2 keadaan yang berbeda tersebut, para Ahli Ma’rifat “Ar-Roja’” atau harapannya kepada Allah tidak berkurang.
Maksudnya, keberhasilannya menjauhi perbuatan maksiat dan dosa tidak akan mengurangi rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana kesuksesannya menampakkan ketaatan dan amal kebajikan tidak akan menambah harapannya kepada rahmat dan karunia Allah SWT. Hal ini bisa tercapai karena para Ahli Ma’rifat telah mencapai tingkat yang tinggi dalam iman kepada Allah SWT atau bahkan telah tenggelam dalam samudera tauhiid. Di perang Badar, Rasulullah dan para sahabat hanya bersandar dan bergantung kepada Allah, maka jumlah yang sedikit tidak menghalangi turunnya kemenangan buah dari pertolongan Allah SWT. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS.2. Al-Baqarah : 249). Untuk mencapai derajat “Marifatullah” atau “Mengenal Allah” tersebut, kita harus melakukan “Mujahadatunnafsi” atau “Berjuang menundukkan dan mendidik nafsu diri kita” dengan cara secara istiqomah melakukan berbagai Riyadhoh (Latihan) dan Dzikir sehingga sampai kepada “Maqom Ma’rifat”. Hikmah ini disampaikan oleh “Imam Ibnu Atho’illah As-Sakandari” agar orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah lebih giat dan tekun dalam amal ibadah dan usaha, namun bersamaan dengan itu ia hanya bersandar atau bergantung kepada Allah SWT dalam mencapai segala harapan & cita-citanya, serta menghapus niatnya dari bersandar kepada amal-amalnya atau apapun selain Allah SWT. Sehingga walaupun kadang amal dan usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil, kita tetap istiqomah, tekun dan semangat menunaikannya, karena kita yakin bahwa amal ibadah adalah tugas dan kewajiban hidup kita yang diberi pahala oleh Allah SWT, sedangkan tercapainya harapan dan cita-cita adalah tergantung kepada kehendak dan kuasa “Al-Wahhaab”, Allah SWT sebagai Dzat Yang Maha Pemberi. Sebagaimana keyakinan yang kita bangun di dalam wirid dzikir kita, “Allohumma Laa Maani’a limaa a’thoita wa Laa Mu’thiya limaa Mana’ta”, Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi terhadap segala sesuatu yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan terhadap segala sesuatu yang Engkau cegah.
Oleh karenanya dalam kondisi apapun hendaknya kita tetap memiliki harapan dan cita-cita hidup yang bernilai dan mulia. Hidup yang penuh ibadah dan manfaat bagi ummat. Pantang bagi kita berkurang harapan, apalagi putus asa. Dan sebagai kaum muslimin dan muslimat, tentu harapan dan cita-cita pergerakan hidup kita adalah bersatunya kembali ummat Islam di seluruh dunia dalam satu kepemimpinan untuk menegakkan kembali hukum-hukum syari’ah di muka bumi Allah ini, sehingga peranan kita sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamiin” dapat terwujud. Dan kita yakin cita-cita ini akan terwujud, karena kita tidak bersandar & bergantung kepada amal-amal ibadah ataupun usaha-usaha yang kita lakukan, namun kita bersandar dan bergantung kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa melakukan apa saja. “Sesungguhnya keadaan Allah apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia”. (QS.36. Yaasiin : 82).
Ustadz Shoffar Mawardi - Pemateri Al Hikam Kajian Lepas Kerja



0 komentar:
Posting Komentar